CES 2026 menjadi momen bagi AMD untuk bersinar di tengah ledakan kecerdasan buatan (AI) dengan menawarkan lebih banyak chip untuk mendorong komputasi AI.
Lebih dari itu, AMD tidak sendirian. Dalam kesempatan emas tersebut, CEO AMD Lisa Su turut serta menghadirkan tokoh-tokoh industri teknologi ke atas panggung untuk berkolaborasi dan membahas masa depan AI. Tapi apakah AI menyimpan technology bubble (gelembung teknologi) sehingga suatu saat bisa meredup?
Baca Juga: Lisa Su: 2022 Adalah Tahunnya Industri PC dan AMD
CES atau Consumer Electronics Show adalah pameran teknologi terbesar di dunia yang diikuti lebih dari 4.500 perusahaan termasuk 1.400 perusahaan rintisan, dari lebih 150-160 negara. Pameran sendiri berlangsung pada 6–9 Januari 2026 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat.
AMD sebagai perusahaan pembuat chip yang berbasis di Santa Clara, California ini telah melampaui pesaing lokalnya, Intel, dari sisi pendapatan. Namun, jika AMD ingin mengejar pesaing lokal lainnya, Nvidia—yang kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia berkat chip GPU-nya yang ramah pusat data. AMD harus membuktikan bahwa dirinya sama relevannya, atau bahkan lebih relevan, dalam momen besar dunia teknologi saat ini.
Pameran teknologi terbesar di dunia ini menjadi kesempatan untuk membuktikannya. Apalagi, Nvidia tidak memperkenalkan chip GPU baru, melainkan hanya mengumumkan keluarga chip mendatang bernama Rubin.
Baca Juga: Kolaborasi AMD dengan Superkomputer Lux dan Discovery Senilai USD1 Miliar
Sementara itu, CEO AMD, Dr. Lisa Su, mendapat sorotan utama sebagai pembicara kunci dalam keynote utama pameran tersebut. Seperti yang ia sampaikan, produk-produk AMD—termasuk rak Helios yang diperkenalkan pada 2025 serta chip CPU EPYC—sudah digunakan oleh seluruh perusahaan AI besar. Selain itu, AMD juga menyiapkan prosesor AI tingkat PC terbaru, Ryzen AI 400.
Di kesempatan berbeda, saat berbicara dengan Bloomberg News di sela-sela CES 2026, Su menegaskan bahwa AI adalah hal yang nyata. Ia tidak sepakat kalau AI hanya sensasi yang akan memudar dalam satu atau dua tahun ke depan. Untuk itu, ia menepis pendapat beberapa ahli kalau AI suatu saat akan kiamat. Meski investasi dan valuasi di sektor AI terus melonjak, sejumlah pengamat mengingatkan adanya risiko terbentuknya gelembung teknologi, seperti terjadi pada industri dotcom di awal tahun 2000-an. Industri yang cepat ledakan, tapi juga cepat jatuh.
Gelembung teknologi adalah fenomena ekonomi di mana harga saham perusahaan teknologi atau startup meningkat sangat drastis dan cepat, melampaui nilai fundamental atau keuntungan sebenarnya, yang didorong oleh euforia pasar dan spekulasi investor. Su berargumen, saat ini jutaan orang sudah menggunakan AI untuk berbagai tujuan, dan tingkat adopsi diperkirakan akan meningkat pesat. Su memprediksi bahwa jumlah pengguna AI aktif di seluruh dunia dapat melebihi lima miliar dalam lima tahun ke depan.
AI Bunuh Tenaga Kerja?
Su juga menepis kekhawatiran bahwa penerapan AI skala besar akan mengakibatkan jutaan kehilangan pekerjaan. Bahkan, saat ini AMD terus membuka lowongan pekerjaan meskipun telah menerapkan AI.
Berbicara kepada CNBC, Su mengatakan bahwa AMD sebenarnya merekrut “banyak orang” di berbagai posisi, “Kami merekrut orang-orang… yang berorientasi pada AI.”
Baca Juga: AMD meluncurkan EPYC Embedded 2005 berbasis “Fire Range”
Su menekankan bahwa teknologi AI “tidak menggantikan manusia,” seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa pengamat dan aktivis. Sebaliknya, AI meningkatkan produktivitas, memungkinkan tim teknik dan pemasaran AMD dapat mengembangkan dan merilis produk lebih cepat dari sebelumnya.
Ledakan industri AI yang terus terjadi, Su memperkirakan permintaan akan mencapai 10 yottaflops daya komputasi dalam beberapa tahun ke depan. Tentu hal ini menjadi kabar baik untuk penyedia teknologi AI seperti AMD.
Foto: tweaktown.com