Atas desakan Pemerintah Korea Selatan, akhirnya Google Inc. telah berjanji untuk menyediakan sistem pembayaran alternatif di toko aplikasinya. Dikutip dari The Korea Herald, Kamis 4 November 2021, Pemerintah Korea Selatan telah memberlakukan undang-undang baru yang melarang raksasa teknologi memaksa pengembang aplikasi untuk menggunakan satu-satunya sistem pembayaran di platform mereka. Baca Juga: Perusahaan Teknologi Bersatu Mendukung Kebijakan Imigrasi Joe Biden Peraturan yang mulai berlaku September 2021 itu, membuat Korea Selatan sebagai negara pertama yang memperkenalkan pembatasan seperti itu. Isu ini sudah lama membetot perhatian dunia. Selama ini, Google dan Apple telah mewajibkan pengembang di toko aplikasi mereka untuk menggunakan sistem pembayaran milik mereka. Masalahnya, biaya yang dibebankan mencapai 30 persen saat pengguna membeli barang digital di dalam aplikasi. Pengembang di seluruh dunia telah mempertanyakan sistem pembayaran
Tag: Google
Podcast Video Lahir, Akankah Ada Cita-cita Menjadi Podcaster?
Persaingan Youtube dan Spotify semakin terlihat jelas. Gerah dominasinya terusik, November 2019 lalu Youtube meluncurkan layanan streaming Youtube Music. Kini giliran Spotify yang dikenal dengan streaming audionya, hari ini melepas fitur podcast video. Tampaknya Spotify tidak rela jika podcaster-nya nyambi di lapak Youtube. Mereka punya basis pendengar di Spotify tetapi menampilkan videonya di Youtube sembari menjaring Google AdSense. Untuk itu, dengan layanan baru ini podcaster dapat menampilkan audio dan videonya dalam satu platform. Apakah ini juga berarti Spotify akan membidik layanan video sebagai tambang iklan barunya? Walau dalam hal ini pihak Spotify, sebagaimana diungkap dalam techcrunch.com, menolak menanggapi, tetapi isu monestasi akan berbau harum jika benar-benar ingin “mengikat” podcaster-nya. Layanan video podcast bisa dinikmati baik bagi pengguna gratis maupun berbayar, juga bisa di
Kita Bisa Enkripsi Data Sendiri Berkat AMD EPYC
Layanan cloud computing ke depan akan bergeser ke layanan pribadi. Untuk itu, data pribadi yang terenkripsi di cloud computing adalah kebutuhan mutlak. Gerak tren baru ini membuat AMD dan Google meluncurkan Confidential Virtual Machines (VMs). Confidential VMs, sekarang dalam versi beta, adalah produk pertama dalam portofolio Confidential Computing Google Cloud. Sebelumnya, Google Cloud mengenkripsi data saat at-rest dan in-transit. Tetapi, kolaborasi 2 perusahaan teknologi ini membuat pelanggan mampu mengenkripsi data mereka di dalam cloud saat sedang diproses, tidak hanya saat transit (real time encryption-in-use). Inilah terobosan teknologi yang membuka skenario komputasi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Misalnya memungkinkan terjadinya multi-party computation, yakni situasi di mana organisasi ingin berkolaborasi satu sama lain pada dataset pribadi, sambil melindungi kerahasiaan data. Terkait dengan akses data


